Fannysella's Blog

October 27, 2010

Ekstrak kunyit buat kemoterapi lebih efektif.

Filed under: macam- macam penyakit dan cara pencegahannya. — fannysella @ 11:08 am

 

Kurkumin dari akar kunyit, telah ditemukan dapat mengurangi jumlah sel kanker yang resisten terhadap kemoterapi.

Menurut sejumlah ilmuwan, ramuan umum dalam kare dapat menyasar dan menghancurkan sel-sel kanker yang resisten terhadap kemoterapi.

Hal ini dapat meningkatkan efektivitas kemoterapi dan juga membantu mencegah penyakit kambuh kembali.

Para peneliti dari Universitas Leicester telah menggunakan kurkumin, ekstrak kunyit, yang biasanya digunakan sebagai bumbu kare, untuk menghancurkan sel kanker yang resisten terhadap kemoterapi.

Tujuannya adalah untuk menggunakan ekstrak ini dalam jaringan tumor kolorektal. Jumlah kolorektal kanker lebih dari 600.000 kematian per tahun dan merupakan penyebab ketiga utama kematian akibat kanker di dunia barat.

Ketua peneliti, Dr. Karen Brown, mengatakan, bahwa setelah mengikuti pengobatan kanker, populasi kecil sel kanker seringkali dapat mengakibatkan kambuhnya kembali penyakit tersebut.

“Sel-sel ini tampaknya memiliki sifat berbeda dengan sebagian besar sel-sel dalam tumor, sehingga membuatnya resisten terhadap kemoterapi,” ujarnya.

Penelitian laboratorium sebelumnya telah menunjukkan bahwa kurkumin-kunyit, tidak hanya meningkatkan efektivitas kemoterapi namun juga dapat mengurangi jumlah sel yang resisten terhadap kemo, serta berimplikasi dalam mencegah penyakit kambuh kembali.

“Kami berharap, penelitian kami akan mengarah pada satu pemahaman yang lebih baik melalui metode-metode kurkumin dengan sasaran sel-sel yang resisten pada tumor,” tambahnya.

Menurutnya hal itu juga membantunya dalam mengidentifikasi populasi pasien yang hampir dipastikan mendapatkan manfaat dari pengobatan kurkumin di masa mendatang.

Kunyit, merupakan bagian dari keluarga jahe, sangat dikenal sebagai bubuk kuning yang seringkali digunakan sebagai rempah kare, telah dimanfaatkan pula untuk tujuan pengobatan selama berabad-abad sebagai warisan nenek moyang.

Kunyit juga potensial digunakan untuk mengatasi radang sendi. Untuk hal-hal lain kini sedang diselidiki di seluruh dunia.

Peneliti Dr. Lynne Howells mengatakan dana dari Hope Against Cancer, yaitu dana beasiswa untuk riset pada Universitas tersebut, merupakan kunci dalam memajukan penelitian ini. (Erabaru/DM/sua)

 

 

sumber:google.com

Bagaimanapun otak tidak mampu mencegah migrant.

Filed under: macam- macam penyakit dan cara pencegahannya. — fannysella @ 10:36 am

Bertentangan dengan beberapa laporan yang ada, obat epilepsi oxcarbazepine ternyata tidak memperlihatkan dapat mencegah migrain, demikian menurut penelitian yang dipublikasikan pada 12 Februari lalu, yang bertopik Neurologi, oleh jurnal medis American Academy of Neurology.Penelitian yang berlangsung hampir 5 bulan ini, melibatkan 170 pria dan wanita dari klinik-klinik yang tersebar di AS. Sebagian dari orang-orang tersebut memperoleh dosis harian oxcarbazepine, sedangkan sisanya memperoleh placebo (obat rekaan/tiruan oxcarbazepine). Kedua kelompok ini termasuk yang terkena migrain 3 hingga 9 kali selama kurun waktu satu bulan.

Para peneliti tidak menemukan perbedaan di antara penerima oxcarbazepine dan penerima placebo, dalam hal serangan migrain dari awal hingga akhir penelitian.

“Hasil percobaan ini tidak mendukung data awal yang menyimpulkan bahwa oxcarbazepine efektif untuk mencegah migrain,” kata penulis hasil penelitian, Stephen D. Silberstein, MD, dari Universitas Thomas Jefferson di Philadelphia, dan Fellow of the American Academy of Neurology. “Sementara beberapa obat epilepsi telah digunakan selama beberapa dekade ini untuk mencegah migrain, oxcarbazepine tidak berefek mencegah migrain dalam penelitian ini, sebaliknya hanya menunjukkan bahwa aman dan mempunyai toleransi yang baik.”

Silberstein mengatakan, tiga obat-obatan epilepsi yang paling efektif mencegah migrain adalah topiramate, divalproex dan gaba-pentin, memiliki beberapa mekanisme dalam menangani migrain, termasuk kemampuannya mengatur “syaraf pemancar” yang dikenal sebagai GABA. Sebaliknya, oxcarbazepine tidak mempunyai peran yang jelas terhadap GABA. Silberstein mengatakan, ada kemungkinan obat epilepsi dapat mengatur “syaraf pemancar” ini agar mencegah timbulnya migrain.

Tambahan pula, kata Silberstein, beberapa faktor mungkin telah mempengaruhi kurangnya respon dalam penelitian ini, termasuk kesulitan relawan mengatasi migrain yang dideritanya.

Diperkirakan migrain telah mempengaruhi lebih dari 28 juta penduduk Amerika pada titik tertentu dalam kehidupannya, dan telah merugikan 18 milyar dolar per tahun akibat absen bekerja dan penurunan kinerja karyawan, serta merugikan 1 milyar dolar per tahun untuk biaya perawatan kesehatan. (sumber: American Academy of Neurology/tnm)

The Banana Smoothie Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.