Fannysella's Blog

October 27, 2010

Ilmu kedokteran modern terhadap hubungan jiwa dan tubuh.

Filed under: ilmu kedokteran modern — fannysella @ 9:35 am

Ilmu kedokteran modern belum mampu menangani masalah penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan secara maksimal. Sebaliknya ilmu kedokteran China kuno dan qigong mampu mengatasi.

Ilmu kedokteran modern percaya terhadap acuan fisiologi dan mental. Setelah diadakan penelitian terhadap 170 kasus orang yang mati mendadak dalam kurun waktu enam tahun, pada tahun 1971, George Engle mengamati bahwa penyakit berat bahkan kematian mungkin ada hubungannya dengan trauma jiwa atau ketegangan jiwa (stres). Kepedihan dapat mengakibatkan timbulnya banyak masalah kesehatan seperti: penyakit koroner, asma, tukak pada usus besar, sejenis reumatik pada persendian, penularan virus secara mendadak, serta leukemia monikarion, kanker, AIDS, bahkan kemungkinan parkinson.
Penyakit akibat cara hidup yang buruk menduduki 70% hingga 80% dari semua penyakit yang ada. Amerika umpamanya, berkisar 10% untuk wanita dan 20% pria yang butuh terapi akibat minum alkohol. Ada kurang lebih 200 ribu orang meninggal karena ketidakseimbangan antara jasmani dan rohani, seperti, bunuh diri, kanker, penyakit jantung, serta liver. Mabuk akibat minum mengurangi usia 10 tahun pada manusia. Ketidakseimbangan yang mendatangkan kerugian nilai masyarakat baik langsung maupun tidak langsung ini melampaui US$ 150 miliar, rata-rata US$ 600 dolar per kapita. Di negara ini, diduga ada enam puluh satu juta perokok pada tahun 1995, empat ratus lima puluh ribu orang di antaranya adalah pemuda. Setiap tahunnya bertambah seratus tujuh puluh ribu pasien kanker, dan 150 ribu orang meninggal setiap tahun di mana 80%-90% terjadi pada perokok itu sendiri. Di China, kini ada 300 juta jiwa perokok. Kebiasaan diet (makan-minum) yang tidak baik, kurang berolahraga, murung pun dapat mengakibatkan bertambahnya risiko penyakit jantung. Meskipun ada pendidikan kesehatan dan teknologi modern, masih ada 40-50 ribu orang mati karena penyakit jantung koroner.
“Teka-teki pada Penyakit yang Kompleks”, demikian topik utama dari majalah Science pada tanggal 26 April 2002. Judul dari tema khusus yang diperkenalkan itu pun tidak hanya masalah gen saja, isinya menceritakan tentang “penyakit yang paling umum adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan”, penyakit jantung, kanker, diabetes dan sebagainya, ini semua termasuk penyakit “rumit” atau “banyak sekali”, ini berarti mereka tidak mungkin menyalahkan mutasi (perubahan mendadak) sebuah satu kesatuan gen atau faktor lingkungan yang sederhana. Justru sebaliknya, mereka bersumber dari banyak gen, faktor lingkungan, serta faktor fungsi gabungan dari kelakuan buruk yang gampang menimbulkan penyakit. Walter C. Willet dari Akademi Kesehatan Umum Harvard dalam karangannya yang berjudul: “Metode Kelakuan yang Stabil dan Riset terhadap Gen untuk Mencegah Penyakit”, menyinggung bahwa; lebih dari 70% pasien stroke, kanker usus, jantung koroner, serta diabetes tipe II, bisa dicegah melalui perubahan cara hidup seseorang. Penelitian biologi molekul telah membantu manusia untuk mengenal fungsi faktor keturunan terhadap penyakit, penyakit utama akibat faktor keturunan adalah langka, hanya menduduki 5% dari penyakit kanker dan jantung koroner. Kebanyakan penyebab penyakit kanker dari publik Barat berasal dari faktor lingkungan (termasuk kebiasaan minum/makan mereka).
Penelitian ilmiah menemukan, dibanding dengan 20 tahun yang lampau, banyak pasien setelah mengonsumsi obat penenang akan ada perubahan pada penyakitnya, ini menunjukkan bahwa kehidupan yang tegang serta tekanan lingkungan di zaman sekarang ini, mungkin mengakibatkan banyak penyakit yang ada hubungannya dengan psikologi seseorang. Dr. Torrey dan Dr. Miller dalam karangan mereka “Epidemi yang Tak Terlihat; Perkembangan Penyakit Jiwa dari Tahun 1750” menyimpulkan bahwa, puluhan tahun belakangan ini, minimal di beberapa negara industri, dari bukti yang dapat dipercaya menyatakan bahwa penyakit umat manusia akibat depresi mental cenderung meningkat, bahkan abalienation (kekacauan jiwa), atau schizoprenia (sejenis sakit jiwa). Sebuah penelitian khusus diarahkan pada reaksi tekanan mental dalam peristiwa 11 September 2001, ‘efek setelah peristiwa itu’ selangkah lagi membuktikan adanya tendensi semacam ini; walau bagi yang jauh dari tempat kejadian peristiwa pun menunjukkan adanya tanda-tanda stres yang hakiki. Jawaban dari warga yang tinggal di sekitar “twin tower”, menunjukkan ada 20% warga yang “sekuela yang sangat traumatis” (atau disebut: gangguan rangsangan setelah trauma, PTSD). Sebuah penelitian khusus diarahkan pada 988 orang penduduk Manhattan menemukan adanya penambahan volume terhadap merokok, minum alkohol, dan menghisap ganja, namun ini mungkin ada kaitannya dengan kondisi psikologi seseorang.
Dalam sebuah riset dari dinas pendidikan yang khusus diarahkan kepada sejuta seratus orang pelajar mengungkapkan, ada kurang lebih 75.000 bocah menunjukkan lebih dari enam tanda PTSD tersebut, jadi ini dapat didiagnosa sebagai schizoprenia. Semua masalah tersebut cukup menjelaskan bahwa faktor kejiwaan, cara kehidupan, faktor lingkungan serta keadaan sosial terhadap kondisi fisiologi pun mempunyai pengaruh yang sangat penting, sedangkan metode terapi ilmu kedokteran sekarang ini dalam segi-segi ini adalah minim sekali.

Kembali ke Tradisi dan Kultivasi

 

meditasi

Kalau dari segi kejiwaan, penanganan ilmu kedokteran modern masih minim. Sebaliknya dari sisi ilmu kedokteran tradisional China lebih gampang untuk mengerti manfaat mengultivasi Qigong dalam mengolah jiwa serta usia panjang, sebab ini sebenarnya adalah manifestasi dari satu sistem yang berbeda tingkatan.
Berbeda dengan struktur ilmu kedokteran Barat, ilmu kedokteran Tiongkok adalah sebuah ilmu yang dapat menakar taraf. Sistem meridian dan pembuluh sekunder dari ilmu kedokteran Tiongkok adalah saluran beredarnya energi, segala materi dari ilmu kedokteran tersebut lebih memprioritaskan “energi vital” sebagai semacam konsepsi energi, misalnya energi pelindung/luar, energi darah, energi dalam tubuh, energi intisari, energi dari organ tubuh bagian dalam, energi dari meridian dan pembuluh sekunder, dan energi lainnya. Organ tubuh dalam ilmu kedokteran China pun bukanlah sebuah konsepsi ilmu pembedahan, melainkan sebuah pusat energi yang mempunyai fungsi khusus, serta melalui meridian pembuluh sekunder dengan tubuh dari dalam hingga luar, atas sampai ke bawah, serta mempunyai pertalian yang sangat erat sekali di antara sistem luar (sistem organ lainnya) dan dalam, yang menjadi dasar materi dalam gagasan secara keseluruhan.
Baik terapi akupunktur maupun terapi refleksi serta terapi pembinaan lainnya, semuanya itu adalah terapi mengatur kembali energi yang hilang keseimbangannya. Perbedaan hakiki antarpengobatan China maupun Barat tidak saja pada sifat yang alami, atau keterpaduannya, namun kuncinya adalah pengaruh hilangnya keseimbangan pada tubuh manusia itu sendiri, jadi, berdasarkan prinsip energi yakni empat energi vital dan lima indera serta batas penentuan meridian dan pembuluh sekunder untuk digunakan sesuai kategorinya. Diagnosa dari ilmu kedokteran China pun tercermin dari berbagai proses perubahan pusat energi (organ tubuh) dan berbagai macam kualitas, kuantitas, seperti: sawan bangkai, hawa energi berubah menjadi panas, hawa energi pusar merosot, serta Yin-Yang (hawa positif-negatif) sama-sama naik ke atas. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa, ilmu kedokteran China yang sebagai sebuah sistem ilmu kedokteran yang berada digaris standar kemampuan secara keseluruhan itu, bukanlah seperti apa yang disebut dengan “pengobatan anjuran dan alternatif” (alternative and complementary medicine), tapi melainkan sebuah ilmu kedokteran fungsional atau ilmu kedokteran energi yang tak boleh kurang.
Selanjutnya, ilmu pengobatan China adalah ilmu pengobatan dimensi mikrokosmis. Yang membuat orang merasa bingung dari ilmu ini ada pada konsepsinya yang abstrak. Di satu sisi, dengan adanya pengenalan secara berangsur dari peneliti tentang ilmu kedokteran modern dari khasiat medisnya, di sisi lain karena dibuat tak berdaya oleh konsepsi dasar dan susunan teorinya yang tak terlihat, serta tidak bisa diraba itu. Yang membuat terperanjat kebanyakan peneliti ialah bahwa ilmu pengobatan China adalah sebuah susunan energi yang akurat, sistematis serta sempurna, justru sistem susunan ini terdapat di indera manusia dan juluran dari alat perasa (yang berbagai alat yang sempurna sekaligus) tetap belum sanggup mendeteksi terhadap dimensi yang lebih mikrokosmik itu.
Tabib “memandang, mendengar, bertanya” serta “memastikan”, melalui informasi yang diperoleh itu pun hanyalah cerminan yang paling luar dari dimensi mikrokosmis itu. Pada zaman dahulu kala, manusia melalui meditasi berkemampuan untuk mengfluroskopi dimensi mikrokosmis terhadap tubuh manusia itu sendiri. Dalam buku (Zhuan Falun) menceritakan tentang “di zaman Tiongkok kuno, pada umumnya para tabib yang merupakan pakar besar ilmu pengobatan di sana mempunyai kemampuan luar biasa, seperti; Sun Si Miao, Hua Tuo, Lie Shizhan, dan Bian Jie, dan telah tercatat di kitab buku kedokteran. Tetapi justru semua saripati inilah yang mendapat kritik, yang diteruskan oleh ilmu pengobatan Tionghoa sekarang hanyalah sedikit resep saja, atau barangkali hanya rabaan pengalaman saja. Ilmu pengobatan di zaman Tiongkok kuno sangatlah maju, tingkat kemajuannya melebihi ilmu kedokteran sekarang.”
Lagi pula, ilmu pengobatan Tiongkok ini adalah ilmu yang mempersatukan antara jiwa dan jasmani. Dalam ilmu kedokteran ini mengatakan bahwa “jantung adalah rajanya organ, jantung tidak sadar, maka ke-12 organ pun dalam bahaya,” “dalam jantung terdapat jiwa”, “dalam paru-paru terdapat semangat”, “dalam hati terdapat arwah,” “dalam limpa terdapat pikiran,” dan “dalam ginjal terdapat aspirasi”. “Senang melukai jantung, sedih melukai paru-paru, marah melukai hati, pikiran melukai limpa, takut melukai ginjal”. Ajaran dalam ilmu pengobatan China, hati yang bersih dari segala hasrat, sekaligus adalah rahasianya panjang umur dalam pemahaman jiwa. Ilmu kedokteran China masa kini sangatlah terbatas, maka bagian inti dari ilmu kedokteran tersebut pun tidak bisa berkembang dan diteruskan sepenuhnya. Oleh karena itu, dalam metode terapi pada ilmu kedokteran China masa kini sekalipun, aspek ini juga sering kali kurang adanya. Penyebab terjadinya hal-hal demikian ini adalah rumit. Salah satu penyebab yang penting ialah pengaruh politik dan kesadaran. Terhadap bagian yang agak “mistik”, ilmu kedokteran China ini tidaklah berani menghadapi dengan sungguh-sungguh, dipandang sebagai “sampah” atau “takhayul”, karena itu hilanglah peluang untuk mendalami.
Yang terakhir sekaligus merupakan yang terpenting pula, bahwa ilmu pengobatan China adalah sebuah ilmu yang menyatu antara alam dan manusia, penyatuan konsep antara manusia dan alam itu sekaligus merupakan prinsip dasar pada ilmu pengobatan Tiongkok itu. Tubuh manusia adalah sebuah jagat raya kecil, alam mempunyai lima cuaca, bumi ada lima perubahan pula, sedangkan manusia mempunyai lima organ tubuh serta lima aspirasi, saling berhomolog dari jauh. Pemberian nama oleh ilmu kedokteran terhadap titik-titik akupunktur, penggambaran terhadap berbagai perubahan energi dalam tubuh manusia pun tercermin pada ciri khas ini. Orang Barat mengatakan bahwa diagnosa ilmu ini kedengarannya seperti ramalan cuaca saja, justru berasal dari ini.
Namun, tubuh manusia tidak saja mengandung materi, tapi lebih dari itu yakni; jiwa, sifat bawaan manusia, watak serta ideologi/pikiran dan sebagainya. Dalam kategori kesehatan manusia, dalam jiwa yang damai, peredaran darah serta energi pun lancar, apa yang disebut dengan “jiwa yang tenteram terdapat energi vital yang damai”, demikian artinya. Akan tetapi, dalam tubuh manusia, energi vital adalah semacam energi yang terbatas dan mudah rusak, oleh karena itu banyak faktor dapat menyebabkan gangguan pada energi vital itu, misalnya; energi vital lemah, mandek, energi yang berlawanan, amblas, serta energi lepas dan sebagainya. Persis dengan apa yang dikatakan bahwa, “segala penyebab yang berasal dari energi itu sendiri, akan menyebabkan penyakit.” Jadi, semua cara untuk mengobati atau penyehatan, tidak luput dari: menambah energi kembali, meresap, serta mengatur kembali energi vital itu. Akan tetapi energi tetaplah energi, akhirnya dia pun akan lemah dan frustrasi.
Namun, energi jagat raya tetap lestari dan abadi. Kalau tubuh manusia itu adalah sebuah “alam semesta kecil”, mengapa energi yang terdapat di dalamnya tidak akan abadi? Seandainya tubuh manusia adalah alam semesta kecil, dan memiliki jiwa, maka alam semesta besar yang ada di sekeliling kita itu, bukankah tidak saja mempunyai lima unsur, dan lima energi vital, tapi harus memiliki jiwa pula? Jawabannya jelas ya. Jadi apa yang disebut dengan batas yang paling tinggi di ilmu pengobatan China dalam mengultivasi jiwa raga serta watak (menolah jiwa raga), tidak berhasrat terhadap nama dan kekayaan, membersihkan hati dan menahan hawa nafsu, mencapai ke tingkat dan batas yang sejati, baik dan sabar, “tidak berubah dalam keadaan miskin sekalipun, dan tidak tergiur oleh harta kekayaan, tak peduli akan terhina atau dimanja sekalipun, serta tak akan gentar terhadap kekuasaan sekalipun.”
Ini sebenarnya sudah melebihi jangkauan ilmu kedokteran dan memasuki sebuah kategori baru, yaitu berkultivasi diri. Sebuah cara yang benar-benar dapat mengolah jiwa dan raga sekaligus serta membantu kita mencapai sebuah tahap ini. Sekarang ini, energi dan energi vital dalam tubuh manusia alam semesta kecil ini, bersamaan dengan semangat dan ciri khas pembauran pada jagat raya dan berubah menjadi energi vital dan pahala serta kemurnian yang lebih abadi demikian pun akan terealisasi dengan kesehatan dan usianya yang panjang.
Ilmu kedokteran Barat modern kini sudah memahami kesehatan yang multilapis dan multiaspek mengemukakan secara jelas akan acuan baru ilmu kedokteran ini: biologi, mental, masyarakat, dan jiwa. Sehat rohani seseorang, maka mental dan kelakuannya pun pasti sehat, kesehatan tubuhnya adalah sebuah hasilnya yang pasti. Sesungguhnya, ilmu pengobatan China tradisional dan metode kultivasi, tidak melulu termasuk acuan ini, tapi memberikan seperangkat metode yang bisa ditindaklanjuti, juga patut dihargai dan dikembangkan. (erabaru.net)*

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: